0

Memahami Apa Itu Proof of Stake

Setiap sistem pasti memiliki suatu algoritma yang berguna untuk pemrosesan data, perhitungan, dan penalaran otomatis dengan metode matematika. Hal itu berlaku pula dalam sistem blockchain. Dalam cryptocurrency, algoritma ini disebut sebagai konsensus yang berarti sebuah kesepakatan. Algoritma konsensus inilah yang membuat layanan pengadopsi blockchain bersifat terdesentralisasi alias tidak membutuhkan pihak ketiga dalam seluruh kegiatan transaksi di sana. Lain halnya dengan layanan centralized yang melibatkan pihak ketiga sebagai pengatur transaksi. Saat ini sudah ada banyak jenis algoritma konsensus. Yang paling populer misalnya seperti Proof of Stake (PoS), Proof of Work (PoW), dan Delegated Proof of Stake (DPOS). Di artikel kali ini, kita akan mengupas salah satu dari ketiga konsensus tersebut yaitu Proof of Stake. Simak baik-baik pembahasan berikut ya!

Apa itu Proof of Stake?

Proof of Stake (POS) adalah suatu algoritma konsensus yang dikembangkan sejak tahun 2011 kemudian diperkenalkan oleh developer dengan anonim Sunny King. Sederhananya, validator pada konsensus ini mempertaruhkan token yang dimilikinya untuk mengamankan jaringan blockchain. Sebagai imbalannya, validator terpilih akan mendapatkan reward. Cara tersebut kemudian dikenal dengan staking. 

Dengan mengusung konsep yang lebih efisien, konsensus ini dipersiapkan untuk mengganti algoritma konsensus Proof of Work (POW). Mengapa algoritma POW diganti? Perlu diketahui, POW menggunakan para penambang (miner) untuk melakukan validasi setiap transaksinya. Kemudian mereka diberi imbalan berupa koin kripto. Namun menambang dengan konsensus POW membutuhkan energi yang besar sehingga menyebabkan pemborosan. Contohnya pada tahun 2015, untuk memvalidasi satu transaksi Bitcoin membutuhkan tenaga listrik yang setara dengan 1,57 rumah tangga di Amerika Serikat setiap harinya. Maka dihadirkanlah Proof of Stake yang dinilai dapat mengatasi hal tersebut. 

Algoritma POS menerapkan mekanisme dimana blok divalidasi berdasarkan stake holder atau jumlah koin yang dimiliki stake holder pemegang koin. Artinya, semakin banyak koin yang dimiliki dan di-stake penambang, maka mereka punya daya tawar tinggi dan berpeluang besar dipilih sebagai validator. 

Kelebihan Proof of Stake

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, konsensus Proof of Work memakan banyak tenaga listrik untuk menambang dan memvalidasi setiap transaksi. Hal itu membuat PoW jadi kurang ramah lingkungan. Bahkan ada beberapa negara yang melarang penggunaan Bitcoin untuk transaksi lantaran boros daya listrik. Gudang rig penambangan Bitcoin beroperasi selama 24 jam sehingga proses mining-nya menghabiskan banyak energi. Berbeda dengan Proof of Stake yang mengkonsumsi energi listrik jauh lebih rendah sehingga lebih ramah lingkungan daripada konsensus Proof of Work.

Pengguna bisa melakukan staking dan mendapatkan passive income dari sana. Hal itu lantaran proses validasi pada blockchain dengan konsensus PoS melibatkan pengguna di dalamnya. Sehingga kedua belah pihak sama-sama mendapatkan manfaat.

Biaya transaksi yang dibebankan pada pengguna lebih murah. Proof of Work menggunakan alat dan listrik yang menjadikan cost gas fee-nya mahal.

Baca juga: Token dan Koin Cryptocurrency, Apa Bedanya Ya?

 

Contoh Koin Yang Menggunakan Proof of Stake

Cardano (ADA)

Cardano menggunakan sistem bernama Ouroboros yang merupakan modifikasi dari PoS. Sistem itu memanfaatkan pembagian waktu yang disebut epoch untuk memisahkan proses pemilihan validator. Proses pembagian ini dijalankan dengan membagi menjadi beberapa slot, dan setiap slot memiliki slot leader sebagai validator. 

Fantom (FTM)

Fantom adalah koin yang memanfaatkan Proof of Stake yang dimodifikasi untuk menciptakan suatu leaderless proof of stake yang disebut Lachesis. Lachesis dapat mengatur struktur urutan transaksi bagi setiap validator berkat teknologi directed acyclic graph (DAG) yang digunakannya. Dengan begitu, Lachesis memungkinkan setiap validator bisa melakukan validasi transaksi tanpa harus menunggu konfirmasi dari validator lain. Sistem ini membuat Fantom hanya memakan waktu 1-2 detik dalam memverifikasi dan memvalidasi transaksi. 

Solana (SOL)

Solana menggunakan Proof of Stake dan mengkombinasikannya dengan algoritma proof of history buatan Solana yang menambahkan stempel waktu terhadap semua proses validasi transaksi. Kombo keduanya menciptakan blockchain yang memproses transaksi secara cepat dan biaya transaksinya murah. Hal itu menjadikan Solana sebagai salah satu blockchain tercepat dan dapat menyaingi Ethereum. 

Terra (LUNA)

Terra mengadopsi sistem proof of stake agar memungkinkannya dapat melakukan validasi transaksi dengan mudah dan cepat. Hal tersebut sangat penting bagi Terra yang memiliki ekosistem stablecoin yang memerlukan konversi kripto cepat tanpa biaya yang mahal. Terra juga memerlukan kapabilitas PoS yang memungkinkan puluhan smart-contract berjalan secara bersamaan.

 

Nah, itulah penjelasan mengenai salah satu konsensus blockchain yaitu Proof of Stake. Ikuti terus artikel-artikel kami agar kalian semakin paham mengenai kripto. Jangan lupa kunjungi website Litedex, Instagram, Twitter, YouTubedan TikTok untuk terus mendapat update informasi dari kami ya!

What’s your Reaction?
+1
0
+1
0
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0
close

Oh hi there 👋
It’s nice to meet you.

Join our subscribers list to get the latest news in your inbox.